Oleh Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Kalikasa merupakan salah satu kampung di Lembata dengan Katekeja sebagai nama desa gaya baru. Desa gaya baru merupakan salah satu kebijakan politik masa pemerintahan Orde Baru Pemerintahan Republik Indonesia, yakni merestrukturisasi sistem pemerintahan dari pusat sampai ke desa-desa. Desa Katakeja menjadi ibukota Kecamatan Atadei setelah bencana tahun 1979 di Waiteba. Dari Ibukota kabupaten Lembata (Lewoleba) menujuh Kalikasa-Desa Katakeja dapat menggunakan kendaraan roda dua dan juga roda empat. Dengan jarak 17 Km dari ibukota kabupaten. Kalikasa merupakan daerah pegunungan yang subur sebagai wilaya pertanian, perkebunan dan kehutanan. Sebagai daerah pegunungan yang subur mayoritas penduduk desanya bermatapencaharian sebagai Petani dan 100% masyarakat Kalikasa-Desa Katakeja beragama katolik.
dalam melakukan interaksi sosial dengan masyarakat sekitarnya, masyarakat kampung Kalikasa-Desa Katakeja menggunakan bahasa Indenesia dan juga Bahasa daerah. Berdasarkan peta penyebaran bahasa daerah, Goris Keraf menemukan bahwa di Flores Timur dan Lembata ada sekurang kurangnya empat kelompok bahasa yaitu bahasa Melayu, bahasaHewa-Boru, bahasa Kedang dan bahasaLamaholot. Bahasa Lamaholot terbagi lagi ke dalam tiga rumpun bahasa yaitu bahasa Lamaholot barat, bahasaLamaholot Tengah, bahasa lamaholot Timur.
Kampung Kalikasa-Desa Katakeja dan kampung-kampung sekitarnya seperti kampungKolilerek-Desa Tubukrajan, kampung Bakan-Desa Ilekerbau meruapan wilayah daerah Lamaholot namun bahasanya tidak termasuk dalam beberapa rumpun bahasa Lamaholot menurut pembagian versi Goris Keraf. Kampung Kalikasa dan kampung-kampung sekitarnya memiliki bahasa daerah dengan logat atau aksentuasi yang berbeda satu sama lain dan memiliki dialek yang khas.
Bahasa yang dituturkan orang kalikasa adalah Bahasa Kalela (Kawela)
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Bahasa Kalela (Kawela) dituturkan di Kecamatan Atadei dan Kecamatan Naga Wutung, Kabupaten Lembata Flores Timur, Provinsi NTT. Bahasa Kalela terdiri atas tiga dialek, yaitu (1) dialek Katakeja (Kalikasa) yang dituturkan di Desa Katakeja, Kecamatan Atadei; (2) dialek Lerek yang dituturkan di Desa Lerek, Kecamatan Atadei; dan (3) dialek Boto (Labalimut) yang dituturkan di Desa Boto (Labalimut), Kecamatan Naga Wutung. Persentase perbedaan antardialek berkisar 68,75—75,55%, yaitu antara Lerek dengan Boto (Labalimut) sebesar 75,55%; antara Lerek dengan Katakeja (Kalikasa) sebesar 68,75%; dan antara Boto (Labalimut) dengan Katakeja (Kalikasa) sebesar 72,73%. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Kalela (Kawela) merupakan bahasa tersendiri. Persentase perbedaannyadi atas 81% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain, misalnya dengan bahasa Lamaholot dan Kedang.
Bahasa merupakan bahasa yang sesungguhnya ada namun terlupakan untuk diteliti oleh ahli bahasa. Bahasa kawela merupakan bahasa yang otonom yang memiliki kode bahasa dan nama tersendiri.
Dalam mempelajari bahasa kawela yang digunakan oleh untuk membentuk kalimat tunggal cukup menambahkan akhiran -er pada kata dasar. Dan untuk kalimat jamak hanya dengan menambahkan akhiran -ja. Misalnya, Witi=kata dasar Kalimat tunggal menjadi witer=seekor kambing, kalau kalimat jamak menjadi witeja=kambing-kambing. Untuk mengetahui asal seseorang maka cukup menambahkan akhiran -an pada kata dasar dengan huruf vokal sebagai huruf akhir, dan untuk kata darar yang diakhiri dengan huruf konsonan cukup menambahkan akhiran -u atau akhiran -i ( akhiran -u untuk menyatakan seorang dan akhiran -i untuk menyatakan sekelompok orang. Misalnya, Amerikan= asal dari Amerika, jawan=asal dari Jawa, Larantukan= asal dari Larantuka. Atailin= asal ataili. Lewokukungu=seorang berasal dari lewokukung, Lewokukungi= mereka berasal dari Lewokukung. Bahasa kawela ini pun memiliki perubahan-perubahan. Perubahan biasanya terjadi pada subjek yang mengikuti predikat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar