Sabtu, 12 Mei 2018

Karakteristik Agronomi Dan Kesesuaian Lingkungan Untuk Budidaya Sorgum Manis Di Lahan Kering


Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Tanaman sorgum manis termasuk jenis sorgum (sorghum bicolor) yang batangnya mengandung nira yang dapat diolah menjadi produk gula atau sebagainbahan baku industri lainnya. Perhatian terhadap pembudidayaan serta pemengembangan tanaman ini tampaknya semakin meningkat akhir-akhir ini, hal tersebut didukung oleh kemampuan tanaman sorgum untuk diusahakan pada kondisi lingkungan yang marginal serta kurang air. Dengan demikian secara spesifik tanaman ini dapat dijadikan salah satualternatif komoditi yang berpeluang untuk lahan kering atau wilaya beriklim kering. Pergembangan sorgum manis pada wilaya tersebut, pada akhirnya memiliki sasaran ganda yaitu meningkatkan potensi poduktivitas lahan yang secara tidak langsung juga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, serta penambahan pasok gula atau bahan pemanis.

Akan tetapi dalam pembudidayaan sorgum manis di lahan kering untuk mencapai hasil yang secara ekonomis menguntungkan perlu didukung oleh pemilihan lahan dan lingkungan serta penerapan teknologi budidsya yang sesuai. Lahan dan iklim yang sesuai akan memberi peluang yang baik bagi tanaman untuk menghasilkan panen yang optimal. Sedangkan teknologi budidaya yang tepat adalah menunjang pencapaian hasil yang optimal. Hasil utama dari penanaman sorgum manis adalah hasil nira dari batang yang dapat di proses menjadi gula, dan hasil biji sebagai makanan tambahan atau bahan campuran makanan ternak. Hasil samping lainnya adalah daun yang potensial sebagai bahan hijauan ternak.

Sorgum ( Sorghum bicolor,  L. Moench) termasuk dalam famili Graminea atau rerumputan. Tanaman sorgum yang berbatang manis merupakan salah satu varietas dari suku Sorghum bicolor.Botani dari tanaman sorgum dapat di jelaskan sebagai berikut:

1. Akar

Biji sorgum berkeping satu dan tidak membentuk akartunggang, hanya membentuk akar lateral yang halus terletak agak dalam di bawah tanah.  Akar sorgum dapat berkembang mencapai kedalaman 1,3-1,8 meter. Akar tunjang yang keluar dari buku dapat menjadi akar lateral bila ditimbuni tanah. Dengan adanya akar serabut yang banyak dan panjang, tanaman sorgum mampu menyerap air tanah cukup intensif. Dengan demikian tanaman sorgum ini relatif lebih tahan kekeringan.

2. Batang

Batang sorgum tegak lurus dan beruas-ruas. Setiap ruas mempunyai alur yang letaknya berselang seling. Dari setiap buku keluar daun berhadapan dengan alur. Kuntum yang berada dibawa dasar aluran dapat membentuk cabang baru yang dapat juga berbunga atau berbuah. Batang sorgum ada yang mengandung nira dengan jadar gula cukup tinggi, jenis ini yang dinamakan sorgum manis. Tetapi ada juga yang batangnya banyak mengandung air tetapi tidak manis. Tinghi batang sorgum bervariasi mulai kurang dari 150 cm hingga.lebih dari 2,5 meter. Untuk sorgum biji diperlukan tinggi yang relatif pendek kurang dari 150 cm, sedangkan untuk sorgum manis tipe varietas ideal berpotensi nira cukup adalah yang relatif lebih tinggi dengan diameter batang juga besar. 

3. Daun

Daun sorgum memiliki lapisan lilin yang agak tebal dan berwarna putih. Lapisan lilin ini mempunyai fungsi untuk menahan atau mengurangi penguapan air dari dalam tubuh tanaman. Setiap ruas mendukung sehelai daun yang terdiri atas kelopak daun yang melekat pada batang.

4. Bunga.

Bunga berbentuk malai bertangkai panjang tegak lurus, terlihat pada pucuk batang.

Penyakit Tanaman Sorgum

Suatu tanaman di sebut sakit bila tanamn tersebut dalam kehidupannya menunjukkan penyimpangan-penyimpangan  (abnormal). Penyakit tanaman dapat di golongkan menjadi dua yaitu:

1. Penyakit-penyakit menular

penyakit menular ini penyebabnya dapat berupa jamur, bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Penyakit-penyakit menular ini dapat dibagi lagi menjadi:

a. Penyakit sistemik

maksudnya seluruh tanaman (akar, batang, daun) menjadi sakit. Bibit dari tanaman tersebut menghasilkan tamanan baru yang sakit pula. 

b. Penyakit setempat (lokal)

Maksudnya serangan bersifat setempat, atau sebagian besar tanaman menjadi sakit. Tanaman yang tumbuh dari tanaman yang sakit tersebut tetap sehat meskipun tanaman sehat tersebut dapat tertular lagi di kebun.

2. Penyakit-penyakit fisiologis

disebabkan karena susunan atau keadaan lingkungan dari tanaman-tanaman tersebut. Misalnya, iklim, suhu, unsur hara dan lain-lain. Penyakit fisiologis ini tidak ditularkan melalui bibit. Keadaan lingkungan juga dapat mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit. Pada umumnya tanaman yang tumbuh dan dirawat dengan baik akan lebih tahan terhadap macam-macam penyakit.

3. Penyakit-penyakit tanaman sorgum

A. Penyakit yang di sebabkan oleh jamur

1. Penyakit antraknos atau noda merah

penyabab : Jamur Colletotrichum graminocola

Gejala: noda-noda pada daun, bentuk membulat sampai elip, diameter 3-6 mm, warna merah atau merah keunguan tergantung dari macam varietas. Pada kelembaban yang tinggi noda-noda tersebut melebardi seluruh helaian daun.

pengendalian: menggunakan varietas tahan, menggunakan bibit sehat, pengendalian gulma aebagai tanaman inang sementara.

2. Penyakit Jelaga "smut"

Penyebab: Jamur Sphacelotheca sorghi

Gejala: pada tandan biji diselimuti dengan masa tepung berwarna coklat tua sampai hitam. Pertumbuhan tanaman biasanya tidak terpengaruh adanya serangan penyakit tersebut.

pengendalian: penggunaan varietas tahan, penggunaan bibit sehat.

3. Penyakit busuk biji Curvularia

penyebab: JamurCulvularia lunata

Gejala: gejala ditemukan pada bulir-bulir yang menjelang masak. Biji diselimuti dengan masa seperti beludru berwarna hitam yang terdiri dari spora-spora jamur.

Pengendalian: belum diketahui secara pasti

4. Penyakit noda kelabu

penyebab: Jamur Cercospora sorghi

Gejala: pada gejala awal terlihat noda bulat sampai elip berwarna ungu tua atau merahnpada daun, pada tanaman menjelang masak. Kemudian noda-noda dapat bergabung satu dengan yang lain membentuk elip yang lebih besar. Bagian tengah noda menjadi kering dan dipenuhi miselium jamur yang berwarna kelabu dan penuh dengan spora-spora. 

Pengendalian: menggunakan varietas tahan.

5. penyakit-noda-noda daun

penyebab: Jamur Helminthosporium rostratum

Gejala: daun-daun tua lebih peka dari pada daun muda. Pada daun terlihat noda-noda kecil warna bagian tengah lebih muda dikelilingi warna merah ungu pada tepi noda

Pengendalian: penggunaan varietas tahan. 

6. Penyakit noda daun Phoma

penyebab: Jamur Phoma insidiosa

Gejala: noda-noda berbentuk membulat tidak beraturan, berwarna kuning kecoklatan atau coklat kelabu, ditengah-tengah noda terlihat titik-titik hitam yang merupakankantong-kantong spora. 

Pengendalian: penggunaan bibit sehat. Eradikasi terhadap sisa-sisa tanaman yang terinfeksi.

7. Penyakit pokkah boeng

Penyebab: Jamur Fusarium moniliforme var. Subglutinans

Gejala: pada pangkal daun dekat pucuk terjadi khlorosis berwarna hijau muda pucat, berkerut dan dapat diikuti nekrosis yaitu matinya bagian daun pada bagian daun yang mengalami khlorosis. Gejala ini dapat berlanjut dan menyerang batang sorgum.

Pengendalian: sampai saat ini penyakit pokka boeng dianggap sebagai penyakit ringan, sehingga hanya perlu diperhatikan mengenai sanitasi atau kebersihan kebun.

8. Penyakitbusuk batang

penyebab: Jamur Rhizoctonia solani

Gejala: gejala awal bagian tengah batang berwarna kemerahan selanjutnya terlihat masa jamur berwarna kecoklatan pada pelepa daun.

Pengendalian: perbaiki kultur teknis dengan tujuan agar tanaman tumbuh sehat.

9. Penyakit noda-noda kasar pada daun

Penyebab: Jamur Ascochyta sorghina

Gejala: timbul noda-noda pada daun, bentuk membulat, elip memanjang tidak beraturan, satu sama lain dapat bersambung. Bagian tengah noda dapat mengering dan terlihat bintik-bintik kecil berupa kantong-kantong spora, ditepi noda berwarna coklat tua.

pengendalian: penanaman varietas tahan. Rotasi tanaman. Eradikasi sisa-sisa bagian tanaman yang terserang.

10. Penyakit karat 

Penyebab: Jamur Puccinia purpurea

Gejala: dalam kondisi normal, penyakit karat muncul menjelang tanaman tua. Pada helai daun timbul noda-noda memanjang, berwarna merah jinggs sampai merah tua. Selanjutnya noda-noda berubah menjadi kasar apabila diraba yang merupakan kantong-kantong spora.

pengendalian: penggunaan varietas tahan.

11. Penyakit embung tepung

Penyebab: Jamur Sclerospora sorghi

Gejala: infeksi yang terjadi awal menyebabkan setelah berkecambah mengalami khlorosis dan tanaman menjadi kerdil. Pada helaian bawah daun yang mengalami khlorosis terlihat seperti tepung berwarna putiyang merupakan masa jamur beserta spora-spora.

Pengendalian: penggunaan varietas tahan. Penggunaan bibit sehat. Pemusnaan sisa-sisa tanaman yang terserang.

B. Penyakit yang disebabkan oleh nematoda

1. Penyakit nematoda

gejala: tanaman tampak kerdil dan merana. Daerah perakaran terjadi luka-luka  yang dapat menjadi tempat masuknya mikroorganisme lain. Serangan nematode biasanya terjadi pada tanah-tanah ringan.

pengendalian:penggunaan nematisida dan Pergiliran tanaman.

C. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh  bakteri

1. Penyakit noda bakteri

penyebab: Bakteri Pseudomonas syringae

Gejala: noda-noda pertama timbul pada permukaan bawah daun, bentuk membulat sampai elip, warna hijau tua kebasahan, selanjutnya noda mengering dibatasi warna merah pada tepinya. Pada gejalah parah noda-noda saling bergabung dan akhirnya daun mengering

Pengendalian: penggunaan bibit sehat, pergiliran tanaman.

2. Penyakit garis-garis bakteri

penyebab: Bakteri Xanthomonas holcicola

Gejala: gejala garis-garis tersebut terjadi sejak tanaman muda sampai dengan tua,berupa garis-garis kebasahan kadang-kadang helaian daun menjadi tipis dan tembus. Pada garis-garis tersebut terlihat noda kecil berwarna kuning yang berupa exudat bakteri, kemudian coklat kemerahan dan.melabar yang dapat diikuti dengan matinya sebagian helaian daun.

pengendalian: penggunaan bibit sehat, pergiliran tanaman, pemusnaan sisa-sisa tanaman, pengolahan tanah yang baik.

D. Penyakit yang disebabkan oleh virus

1. Penyakit mosaik

Penyebab: virus

gejala: gejala terlihat jelas pada tanaman muda. Pada helaian daun terjadi gambaran seperti mosaik dengan warna hijau muda di atas hijau normal daun. Dapat mebgakibatkan tanaman menjadi kerdil dan.mungki dapat mati pada sersngan parah.

pengendalian: Penggunaan varietas tahan, pemusnaan gulma yang dapa berfungsi sebagai inang sementara penyakit mosaik (sanitasi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar