Oleh : Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Pegawai Penyuluh Pertanian di Kabupaten Lembata,
NTT
Tahun ini merupakan tahun politik. Dan tepatnya pada bulan Februari 2017 akan
diadakan pemilihan kepala daerah serentak di delapan provinsi, delapan belas
kota dan tujuh puluh enam kabupaten. DKI
Jakarta pun merupakan salah satu provinsi dari delapan provinsi yang
melangsungkan pilkada.
Sebagai barometer proses
demokrasi di Indonesia, suhu politik di DKI pun kian memanas. Panasnya suhu
politik DKI Jakarta tampak jelas dengan aksi partai-partai partai politik yang
saling menjagokan kandidat masing-masing.
Namun sangat disayangkan bahwa DKI sebagai
barometer demokrasi Bangsa Indonesia menunjukkan suatu kemunduran dalam berdemokrasi.
Kemunduran sistem demokrasi di DKI ditunjukkan dengan menghembuskan isu SARA
(Suku, Agama, dan Ras). Isu SARA ini dihembuskan melalui pernyataan Ahok di
pulau seribu, namun dipelintirkan oleh seorang Buni Yani.
Buni Yani merupakan seorang dosen dan Jurnalis. Sebagai seorang dosen
yang memiliki kemampuan intelektual (IQ) yang mumpuni, Buni Yani harus mampu
memberikan pencerahan politik dan hidup berdemokrasi kepada masyarakat umum
khususnya mahasiswa di kampusnya. Namun tak perlu mempersalakan Buni Yani yang
adalah seorang dosen itu, sebab boleh jadi Buni Yani Kurang dewasa dalam kecerdasan
spriritual (SQ) dan demikian juga prihal kecerdasan Emosional (EQ). Sebab
kedewasaan seseorang tidak dilihat dari usia.
Kecerdasan dan kedewasaan orang didukung oleh
kecerdasan Spiritual (SQ), kecerdasan Emosional (EQ) dan yang terakhir adalah
IQ. Tindakan Buni Yani yang mempelintir pernyataan Ahok sehingga menimbulkan kemarahan
umat Islam menunjukkan predikat dosen yang diberikan kepada Buni Yani patut
dipertanyakan. Apa yang ingin di ajarkan kepada mahasiswanya jika prilaku
dosennya sudah demikian? Pelintiran pernyataan Ahok oleh Buni Yani akhirnya
berdampak pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dinilai ikut berpolitik
praktis. Hal ini dapat kita saksikan pada acara „Indonesian Lawyer Club (ILC)“ di TV
One sebuah stasiun swasta pada selasa 11 Oktober 2016. Para Ulama saling beradu argumen dengan
berpedoman pada ayat ayat suci Alquran.
DKI menjadi barometer kehidupan demokrasi Indonesia.
Jika Pilkada DKI sudah menjadi momok dalam sistem demokrasi, bagaimana dengan
masa depan bangsa Indonesia kedepan. Demokrasi Indonesia telah mengalami suatu
kemunduran dalam proses.
Seorang Buni Yani harus mengetahui bahwa dalam
pembukaan UUD 1945 pasal 29 ayat (2) telah tertulis bahwa “Negara menjamin
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya sendiri-sendiri dan untuk beribadat
menurut agamanya dan kepercayaannya”. Sehingga kita sebagai warga nergara sudah
sepatutnya untuk saling menghargai, saling menghormati antar hak dan kewajiban
yang ada demi menjaga keutuhan negara dan menjunjung tinggi sikap toleransi
antarumat beragama. Sebenarnya hubungan antar agama tidak menjadi sangat
sensitif jika semua masyarakat dan semua agamama memahami secara baik dan benar
pembukaan UUD 1945 pasal 29 ayat (2) tersebut. Nah, isu hubungan antarumat
beragama di Tanah Air selalu menjadi perhatian semua pihak. Intoleransi pun
muncul dan mulai mengerogoti kehidupan masyarakat.
Stasiun metro TV pada hari rabu,15 Juni
2016 dalam acara “Mata Najwa” sebagai program talkshow unggulan
metro TV yang dipandu oleh jurnalis
senior, Najwa shihab menampilkan
pelbagai fakta diskriminasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Najwa
Shihab sebagai pemandu acara dengan tema “Memaknai toleransi”.
Sebagai negara dengan pluralitas agama, masyarakat
Indonesia perlu menjalin hubungan yang harmonis antarumat beda agama. Pluralitas
religius adalah kekayaan bangsa Indonesia tetapi sekaligus menjadi lahan subur bertikaian.
Pluralitas religius menuntut sikap terbuka dan kerelaan berdialog antar umat
beragama demi menghindari dan mewaspadai terjadinya intoleransi.
Pada zaman ini, sikap toleransi dalam
bayang-banyang intoleran. Intoleransi yang tidak kunjung surut sejak era
reformasi. Untuk itu, dibutuhkan keseriusan dalam mengatasi masalah
intoleransi. Dan setiap masyarakat dapat hidup damai dan tentaram serta
mendapat perlindungan dari negara. Meski intesitas intoleransi terus menurun
dari tahun ketahun, tetapi ancaman intolransi tidak perna absen dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Celakanya, aparat penegak hukum tidak
mempunyai instrumen yang jelas dalam melindungi kelompok minoritas dari ancaman
kaum mayoritas. Dalam negara kita terdapat beberapa jenis agama yang berbeda.
Dari satu sisi perbedaan-perbedaan yang ada dilihat sebagai kekayaan bangsa.
Hal ini mendorong setiap penganut untuk saling menghargai, saling
memperkaya nilai-nilai keagamaan
masing-masing.
Perbedaan tidak boleh dilihat sebagai
pertentangan tetapi dipandang sebagai pembanding, pendorong bahkan penguat dan
pemurni. Penganut agama yang berbeda-beda harus mampu hidup bersama dalam
perbedaan.Namun, dalam sejarah perbedaan agama menjadi pemicu pertengakran atau
perpecahan.
Di sini, kita perlu membutuhkan seorang
pemimpin yang memiliki kharisma. Pemimpin tidak hanya mampu beretorika
melainkan diukur melalui tindakakan dan
hasil kerja.
Namun, menjadi menarik adalah para kandidat di
DKI melirik suatu potensi yang menjadi potensi yang dapat menjadi isu panas Pilkada
DKI adalah isu SARA. Pada pekan-pekan terakhir ini terdapat pelbagai berita
manarik yang bisa didiskusikan bersama. Di sini terlihat dengan jelas bahwa
adanya kemerosotan. Jika kemerosotan
demokrasi ini terus berlanjut, maka akan
timbul persoalan-persoalan yang kian kompleks dan bisa saja sulit terbendung.
Sesungguhnya para cendikiawan memiliki andil
dalam proses dan perkembangan sistem demokrasi bangsa Indonesia, bukannya malah
menjadi penghasut dalam kehidupan sosial masyatakat. Buni Yani telah menodai
lembaga pendidikan tinggi tempat ia mengabdi sebagai dosen, dan juga turut
mencoreng nama baik persekutuan cendikiawan Indonesia khususnya para dosen.
Jika dosen telah bertindak di luar batasan
moral sosial, apa yang akan ia berikan kepada mahasiswanya sebagai bekal
kehidupannya di kemudian hari? Mari kita menjaga perbedaan karena dengan
perbedaan yang ada kita menyadari bahwa kita adalah makluk yang unik.
**Artikel Ini telah diterbitkan pada Harian Flores Pos tanggal 15 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar