Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Tenaga Penyuluh Pertanian
Di Kabupaten Lembata - NTT
Hari ini, selasa, 21
Juni merupakan hari yang penting bagi seorang petani. Hari krida pertanian.
Dunia pertanian boleh merasa bangga sekaligus sebagai tantangan. Sejarah
mencatat Indonesia sebagai negara
agraris. Sebagai negara agraris Indonesia perna mengalami swasembada pangan di
tahun 1980-an. Indonesia mengekspor beras kenegara-negara tetangga. Kini Indonesia
mengimpor beras.
Pertanian adalah
bidang yang sangat strategis karena menyangkut berbagai sendi kehidupan
manusia. Pertanian mempunyai makna yang sangat penting. Kebutuhan dasar manusia terutama pangan dan
sandang berasal dari bidang pertanian. Goncangann terhadap sektor pertanian
dapat berimbas pada sektor ekonomi, dan politik bahkan sosial budaya. Oleh
kerena itu pemerintah memandang perlu adanya upaya dalam mendorong sektor
pertanian. Petanian menjadi leading sector pembangunan. Pertanian
menjadisalah satu program nawa cita pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Pada pemerintahan
Jokowi – Jusuf Kalla dengan program nawacitanya. Pertanian menjadi salah satu leading
sektor pembangunan ekonomi kerakyatan. Upaya peningkatan dunia usaha
pertanian terus dilagahkan. Upaya Kusus (Upsus) padi, jagung, kedelai (pajale)
dan membangun kerjasama antara kementrian pertanian dan TNI untuk membuka lahan
sawa yang baru. Salah satu program yang diorbitkan oleh Kementrian Pertanian
berorientasi pada swasembada pangan seperti tahun 1980-an. Ini butuh kerja
keras dan kerja sama.
Sektor pertanian di
Indonesia menjadi prioritas utama sejak zaman dahulu sehingga pengembangannya
selalu mendapat dukungan dari pemerintah. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup
masyarakat, dari sisi lain sektor ini juga dapat menjadi salah satu sumber
devisa negara. Ekspor dari hasil pertanian telah lama dilakukan, antara lain
berasal dari sektor perkebunan, hortikultura, rempah-rempah maupun bunga
potong. Jumlahnya terus bertambah dari tahun ketahun. Seiring dengan
bertambahnya permintaan. Melihat banyaknya permintaan komoditi pertanian
didalam negeri dan meningkatnya jumlah ekspor, maka semakin besar peluang untuk
mengeruk keuntungan. Selain keuntungan yang bersifat individual, hal ini juga
memberi tambahan devisa bagi negara. Meskipun ketersediaan lahan bukan
merupakan masalah yang besar di Indonesia. Namun, penentuan lokasi lahan perlu
disesuaikan dengan daerah pengembangan pertanian yang direncanakan oleh
pemerintah.
Kualitas Produk
Masalah yang sering
dihadapi petani berkenaan dengan kualitas dan pemasaran produk pertanian.
Sebagian besar petani mengalami masalah tersebut, apalagi petani kecil.
Kualitas hasil pertaniannya berkurang lebih rendah dibanding kualitas petani lain. Umumnya, kualitas produk pertanian yang ada
di pasaran sangat beragam. Untuk tujuan ekspor tentu mempunyai kualitas
terbaik. Kemudian kualitas di bawanya dipasarkan ke pasar swalayan. Dan yang
lebi rendah lagi kualitasnya akan masuk pada pasar-pasar umum. Adanya standarisasi
kualitas produk ini mengakibatkan hanya petani atau pengusaha tertentu saja
yang dapat memenuhinya. Sedangkan kenyataannya masih banyak hasil pertanian
yang berkualitas rendah. Rendahnya kualitas dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan
yang tidak sesuai atau cara budidaya yang keliru.
Nah, yang menjadi problem terbesar adalah
sekarang justru, para lulusan pertanian yang enggan terlibat langsung turun ke
sawa dan ladang untuk menerapkan apa yang mereka peroleh dibangku kuliah. Mereka
lebih tertarik menjadi pegawai. Bagaimana pertanian dapat berkembang jika mereka yang diembani tugas enggan
menyingsingkan lengan dan bergulat dengan tanah dan lumpur. Program-program
pertanian setidaknya bersentuhan langsung dengan kehidupan petani. Mereka harus
berpikir seperti petani.
Faktor penyebab
rendahnya kualitas tersebut perlu dicarikan solusi. Peninjauan pertama dari
segi kondisi lingkungan, apakah tanaman tersebut sesuai dengan daerah yang ada.
Kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan adalah iklim, jenis tanah,
topografi. Bila terdapat ketidakcocokan antara syarat tumbuh tanaman dan
lingkungan akan berdampak pada kualitas produk yang akan dihasilkan.
Ketidakcocockan antara tanaman dan lingkungan perlu dihindari. Masalah
pemasaran pun perlu direncanakan dengan matang. Dalam perencanaan tersebut
diperlukan analisis pasar untuk mengetahui kelayakannya.
Kelayakan suatu
produk tanaman sering berhubungan dengan musim atu suatu peristiwa tertentu.
Misalnya, cabai banyak dibutuhkan saat lebaran. Antara permintaan pasar dan
kondisi lingkungan terdapat saling ketergantungan. Ada jenis tanaman tertentu
yang membutuhkan kondisi tertentu pada waktu panennya. Misalnya, tanaman
buah-buahan akan hilang rasa manisnya bila terkena air hujan, demikian juga tanaman
tebuh, rendemennyaakan turun jika kehujanan. Rendahnya kualitas produk
pertanian berdampak pada nilai jual produk tersebut. Dengan demikian maka akan
berdampak juga pada aspek ekonomi.
Kebutuhan Rakyat
Berbicara mengenai
ekomomi kerakyatan maka sesungguhnya yang diperbincangkan adalah segala sesuatu
yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Indonesia sebagai negara
agraris. Dengan pertanian sebagai penopang utama kehidupannya. Dan masyarakat Indonesia
adalah masyarakat petani. Untuk itu sektor pertanian merupakan sektor yang
bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Diskusi tentang pertanian
tidak hanya pada rana idealisme melainkan juga hal-hal teknis. Pertanian tidak
dapat dipandang pada satu aspek hulu
atau hilirnya saja, melainkan harus didiskusikan secara kontinu dan holistik.
Kedua aspek pertanian yakni hulu dan hilir harus di diskusikan bersama. Karena
keduanya saling melengkapi. Berbicara mengenai pertanian tidak terlepas dari
agronomi yang mengarah pada agribisnis.
Untuk membuka usaha
atau bisnis pertanian (Agribisnis) perlu adanya pengetahuan tentang prospek
pasar. Prospek pasar dapat di deteksi dengan mengetahui keadaan pasar. Misalnya
pasar konsumen, pasar industri, pasar swalayan, pasar internasional. Hal ini akan mendukung dalam proses
analisis konsumen. Analisis konsumen merupakan faktor penting. Merekalah yang
mengembalikan modal dan memberikan keuntungan. Dari analisis konsumen akan
diperoleh kebutuhan konsumen, segmentasi pasar dan sistem pembelian. Sistem
pembelian dapat dilakukan secara tunai atau kredit.
Hal yang paling dibutuhkan seorang pelaku usaha pertanian adalah strategi
pemasaran. Strategi pemasaran dirancang agar tujuan usaha dapat tercapai.
Sebagai penentu adalah keadaan konsumen dan pesaing. Sedangkan pengatur
strategi pemasaran pertama adalah
biaya pemasaran. biaya pemasaran adalah
biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk dan semua biaya yang berhubungan
dengan pemasaran. Kedua adalah kombinasi produk. Kombinasi produk
merupakan gabungan dari berbagai produk, mutu, merek, dan kemasan. Mutu produk
sangat mempengaruhi daya beli konsumen. Memproduksi jenis yang sama dengan mutu
yang berbeda dapat juga menjadi alternatif. Ketiga adalah kombinasi
harga. Pada dasarnya harga suatu produk merupakan biaya produksi ditambah
keuntungan atau biaya resiko.
Semuanya ini harus diketahui oleh seorang pelaku usaha pertanian. Sehingga
mampu bersaing untuk memperoleh keuntungan. Pelaku usaha pertanian dalam hal
ini petani boleh merasa bangga karena hasil pertaniannya dapat menopang
perekonomian keluarga. Dengan berkecukupan hasil pertanian dan selebihnya akan
dirahkan pada pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga. Kini saatnya
menciptakan kemakmuran melalui sektor pertanian sebab sudah waktunya para
pelaku pertanian hidup sejahterah.
** Artikel ini telah terbit pada harian Flores Pos pada 21 Juni 2016
** Artikel ini telah terbit pada harian Flores Pos pada 21 Juni 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar