Selasa, 01 November 2016

Pertanian Dalam Karangka Ekonomi Kerakyatan




Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Tenaga Penyuluh Pertanian
Di Kabupaten Lembata - NTT

Hari ini, selasa, 21 Juni merupakan hari yang penting bagi seorang petani. Hari krida pertanian. Dunia pertanian boleh merasa bangga sekaligus sebagai tantangan. Sejarah mencatat  Indonesia sebagai negara agraris. Sebagai negara agraris Indonesia perna mengalami swasembada pangan di tahun 1980-an. Indonesia mengekspor beras kenegara-negara tetangga. Kini Indonesia mengimpor beras.
Pertanian adalah bidang yang sangat strategis karena menyangkut berbagai sendi kehidupan manusia. Pertanian mempunyai makna yang sangat penting.  Kebutuhan dasar manusia terutama pangan dan sandang berasal dari bidang pertanian. Goncangann terhadap sektor pertanian dapat berimbas pada sektor ekonomi, dan politik bahkan sosial budaya. Oleh kerena itu pemerintah memandang perlu adanya upaya dalam mendorong sektor pertanian. Petanian menjadi leading sector pembangunan. Pertanian menjadisalah satu program nawa cita pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Pada pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla dengan program nawacitanya. Pertanian menjadi salah satu leading sektor pembangunan ekonomi kerakyatan. Upaya peningkatan dunia usaha pertanian terus dilagahkan. Upaya Kusus (Upsus) padi, jagung, kedelai (pajale) dan membangun kerjasama antara kementrian pertanian dan TNI untuk membuka lahan sawa yang baru. Salah satu program yang diorbitkan oleh Kementrian Pertanian berorientasi pada swasembada pangan seperti tahun 1980-an. Ini butuh kerja keras dan kerja sama.
Sektor pertanian di Indonesia menjadi prioritas utama sejak zaman dahulu sehingga pengembangannya selalu mendapat dukungan dari pemerintah. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, dari sisi lain sektor ini juga dapat menjadi salah satu sumber devisa negara. Ekspor dari hasil pertanian telah lama dilakukan, antara lain berasal dari sektor perkebunan, hortikultura, rempah-rempah maupun bunga potong. Jumlahnya terus bertambah dari tahun ketahun. Seiring dengan bertambahnya permintaan. Melihat banyaknya permintaan komoditi pertanian didalam negeri dan meningkatnya jumlah ekspor, maka semakin besar peluang untuk mengeruk keuntungan. Selain keuntungan yang bersifat individual, hal ini juga memberi tambahan devisa bagi negara. Meskipun ketersediaan lahan bukan merupakan masalah yang besar di Indonesia. Namun, penentuan lokasi lahan perlu disesuaikan dengan daerah pengembangan pertanian yang direncanakan oleh pemerintah.
Kualitas Produk
Masalah yang sering dihadapi petani berkenaan dengan kualitas dan pemasaran produk pertanian. Sebagian besar petani mengalami masalah tersebut, apalagi petani kecil. Kualitas hasil pertaniannya berkurang lebih rendah dibanding kualitas petani lain.  Umumnya, kualitas produk pertanian yang ada di pasaran sangat beragam. Untuk tujuan ekspor tentu mempunyai kualitas terbaik. Kemudian kualitas di bawanya dipasarkan ke pasar swalayan. Dan yang lebi rendah lagi kualitasnya akan masuk pada pasar-pasar umum. Adanya standarisasi kualitas produk ini mengakibatkan hanya petani atau pengusaha tertentu saja yang dapat memenuhinya. Sedangkan kenyataannya masih banyak hasil pertanian yang berkualitas rendah. Rendahnya kualitas dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak sesuai atau cara budidaya yang keliru.
 Nah, yang menjadi problem terbesar adalah sekarang justru, para lulusan pertanian yang enggan terlibat langsung turun ke sawa dan ladang untuk menerapkan apa yang mereka peroleh dibangku kuliah. Mereka lebih tertarik menjadi pegawai. Bagaimana pertanian dapat berkembang jika  mereka yang diembani tugas enggan menyingsingkan lengan dan bergulat dengan tanah dan lumpur. Program-program pertanian setidaknya bersentuhan langsung dengan kehidupan petani. Mereka harus berpikir seperti petani.
Faktor penyebab rendahnya kualitas tersebut perlu dicarikan solusi. Peninjauan pertama dari segi kondisi lingkungan, apakah tanaman tersebut sesuai dengan daerah yang ada. Kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan adalah iklim, jenis tanah, topografi. Bila terdapat ketidakcocokan antara syarat tumbuh tanaman dan lingkungan akan berdampak pada kualitas produk yang akan dihasilkan. Ketidakcocockan antara tanaman dan lingkungan perlu dihindari. Masalah pemasaran pun perlu direncanakan dengan matang. Dalam perencanaan tersebut diperlukan analisis pasar untuk mengetahui kelayakannya.
Kelayakan suatu produk tanaman sering berhubungan dengan musim atu suatu peristiwa tertentu. Misalnya, cabai banyak dibutuhkan saat lebaran. Antara permintaan pasar dan kondisi lingkungan terdapat saling ketergantungan. Ada jenis tanaman tertentu yang membutuhkan kondisi tertentu pada waktu panennya. Misalnya, tanaman buah-buahan akan hilang rasa manisnya bila terkena air hujan, demikian juga tanaman tebuh, rendemennyaakan turun jika kehujanan. Rendahnya kualitas produk pertanian berdampak pada nilai jual produk tersebut. Dengan demikian maka akan berdampak juga pada aspek ekonomi.
Kebutuhan Rakyat
Berbicara mengenai ekomomi kerakyatan maka sesungguhnya yang diperbincangkan adalah segala sesuatu yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Indonesia sebagai negara agraris. Dengan pertanian sebagai penopang utama kehidupannya. Dan masyarakat Indonesia adalah masyarakat petani. Untuk itu sektor pertanian merupakan sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Diskusi tentang pertanian tidak hanya pada rana idealisme melainkan juga hal-hal teknis. Pertanian tidak dapat dipandang pada  satu aspek hulu atau hilirnya saja, melainkan harus didiskusikan secara kontinu dan holistik. Kedua aspek pertanian yakni hulu dan hilir harus di diskusikan bersama. Karena keduanya saling melengkapi. Berbicara mengenai pertanian tidak terlepas dari agronomi yang mengarah pada agribisnis. 
Untuk membuka usaha atau bisnis pertanian (Agribisnis) perlu adanya pengetahuan tentang prospek pasar. Prospek pasar dapat di deteksi dengan mengetahui keadaan pasar. Misalnya pasar konsumen, pasar industri, pasar swalayan, pasar internasional. Hal ini akan mendukung dalam proses analisis konsumen. Analisis konsumen merupakan faktor penting. Merekalah yang mengembalikan modal dan memberikan keuntungan. Dari analisis konsumen akan diperoleh kebutuhan konsumen, segmentasi pasar dan sistem pembelian. Sistem pembelian dapat dilakukan secara tunai atau kredit.
Hal yang paling dibutuhkan seorang pelaku usaha pertanian adalah strategi pemasaran. Strategi pemasaran dirancang agar tujuan usaha dapat tercapai. Sebagai penentu adalah keadaan konsumen dan pesaing. Sedangkan pengatur strategi pemasaran  pertama adalah biaya pemasaran.  biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk dan semua biaya yang berhubungan dengan pemasaran. Kedua adalah kombinasi produk. Kombinasi produk merupakan gabungan dari berbagai produk, mutu, merek, dan kemasan. Mutu produk sangat mempengaruhi daya beli konsumen. Memproduksi jenis yang sama dengan mutu yang berbeda dapat juga menjadi alternatif. Ketiga adalah kombinasi harga. Pada dasarnya harga suatu produk merupakan biaya produksi ditambah keuntungan atau biaya resiko.
Semuanya ini harus diketahui oleh seorang pelaku usaha pertanian. Sehingga mampu bersaing untuk memperoleh keuntungan. Pelaku usaha pertanian dalam hal ini petani boleh merasa bangga karena hasil pertaniannya dapat menopang perekonomian keluarga. Dengan berkecukupan hasil pertanian dan selebihnya akan dirahkan pada pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga. Kini saatnya menciptakan kemakmuran melalui sektor pertanian sebab sudah waktunya para pelaku pertanian hidup sejahterah.

** Artikel ini telah terbit pada harian Flores Pos pada 21 Juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar